Join Multiply
Open a Free Shop
Sign In
Help
SEARCH
Marketplace
Clothing & Accessories
Shoes
Beauty & Health
Jewelry & Watches
Fragrances & Perfume
Kids
Baby & Toddler
Electronics & Cell Phones
Computers & Accessories
Movies, Music, Games & Books
Home & Garden
Collectibles & Art
Sports & Outdoors
Professional Services
Car Parts & Accessories
Everything Else
Dhi-Tha Site
Home
Notes
Blog
Photos
Video
Music
Calendar
Profil Gue
Apr 10, 2007
ID Gueee...
Nama : Dhieni and Thaufan
Tanggal lahir : 10 -10 -2007
Alamat : Sumenep Madura
Phone : 081935143373
View Profile (1 pix)
Foto Qta nich.....
Oct 24, 2008
New
20 Photos
dhietha 2
15 Photos
Dhie_tha
30 Photos
Photo Album 2007-04-10
9 Photos
View All
Notes
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Republik Indonesia adalah negara yang memiliki tujuan nasional dan cita-cita luhur yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dipersiapkan secara dini sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Muchtadi, 2002). Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997). Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997). Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986). Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998). Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id) Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Lampung adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Lampung Timur adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Lampung Timur 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Batanghari hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006). Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung Timur 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Batanghari terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.3 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.4 Pertanyaan Penelitian Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Batanghari Lampung Timur. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.5.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan Wirabuana. Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya. 1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Batanghari Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui. 1.6.3 Bagi Ibu Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI 1.6.4 Bagi Penulis Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu. 1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif 1.7.2 Objek penelitian : a. Variabel Terikat : PASI b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI 1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan 1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20). 2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993). 2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup. b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya. c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin e. Menyusui bayi lebih sering f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya. 2.2 Pengertian PASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999). PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan. PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59). Indikasi pemberian PASI : 1. Ibu Menderita Demam Tinggi. 2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah. 3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid 4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu. 2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan? PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti : - Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada - Ibu meninggal dunia - Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat - Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain - Anak sakit dan dirawat dirumah sakit. Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain : 1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan. 2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas. 3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu. 4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal 2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol 1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat). 2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat. 3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan. Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73). Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi 1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk) a. Susu sapi b. Susu kerbau 2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder) 3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah) 4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk) 5. Susu Asam (Yoghurt) 6. Susu Formula (Adapted) Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43). 2.3 Faktor Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian. Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan. Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut : 1. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) 4. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas. 2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti : - Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI - Bayi menangis terlalu sering - Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993). Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000). Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000). Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000). a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara. b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi. c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya. d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi. e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar. f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik. g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya. h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah. Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara : a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar. b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu. c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI. d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar. 2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain: 1. Perubahan sosial budaya - Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya. - Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. - Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya. 2. Faktor Psikologis - Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita. - Tekanan batin. 3. Faktor Fisik Ibu - Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya. 4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002) BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi berusia 0-6 bulan merupakan masalah yang nyata bagi ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan. Karena masih banyaknya ibu menyusui yang memberikan PASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan : Variabel Dependen Variabel Independen Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hubungan tingkat pengetahuan diberikannya PASI usia 0 – 6 bulan, sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan : Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Yang Diteliti Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang ASI dan PASI Kuesioner Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Nominal 2. Pemberian PASI Makanan tambahan yang diberikan pada bayi 0-6 bulan selain ASI Kuesioner Memberikan Tidak memberikan Nominal 3.3 Hipotesa Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI HA : Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI Ho : Diterima Jika < BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002). Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran atau deskriptif yang menggambarkan variable-variabel penelitian tentang pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Adalah subyek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama menurut (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur yang berjumlah 20 orang dari 100 orang (Laporan Puskesmas Pembantu Batanghari). 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (S. Notoatmodjo, 2002:79),besarnya sampel dalam penelitian yaitu di ambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% maka sampel yang diambil adalah 100 x 20% = 20 orang yang menjadi sampel. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel accidental. 4.4 Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, penulis mengikuti kegiatan di 5 Posyandu dengan penelitian langsung terhadap obyek yang teliti dalam hal ini ibu-ibu menyusui yang tidak memberikan ASI secara eksklusif di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan instrumen angket / quisioner. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dibagikan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Langkah-langkah yang ditempuh dalam Pengkumpulan Data pada Penelitian ini meliputi : 4.4.1 Langkah Persiapan 1. Mempersiapkan Instrumen Penelitian 2. Melakukan penjajakan kepada responden untuk kemungkinan dilakukan penelitian 3. Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian. 4.4.2 Langkah Pelaksanaan Setelah dilakukan Persiapan penelitian maka dilakukan Pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memperbanyak kuesioner. 2. Membagikan kuesioner kepada responden. 3. Menetepkan subjek penelitian dengan jumlah 20 responden yang diambil secera kebetulan ada. 4. Setelah didapatkan subjek dengan jumlah 20 responden, jsawaban akan dianalisis. 5. Setelah kuesioner diisi maka diperoleh data yang kemudian dilakukan tabulasi data yang didapatkan dari hasil kuesioner tersebut. 6. Kemudian dilakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh. 4.5 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah berupa angket / kuesioner yang berupa daftar pertanyaan tertutup yang telah disusun. Jumlah pertanyaan adalah 20 item untuk mengukur pengetahuan dengan alternatif jawaban “B” dan “S” jika jawaban “Benar” diberi nilai 1 dan jika “Salah” diberi nilai 0. Petanyaan meliputi Manfaat ASI, Pengertian PASI, da Dampak Negatif PASI, dengan nomor soal terlihat paa tabel berikut : Tabel 2. Daftar Kisi-Kisi Pengetahuan No. Pengetahuan Jumlah Soal No. Soal 1 2 3 Manfaat ASI Pengerian PASI Dampak negatif PASI 8 5 5 1-8 9-14 15-20 4.6 Pengolahan Data Langkah-langkah dalam pengolahan data peneliti adalah : a. Editing Meneliti kembali angket mengenai kelengkapan dan relevansi jawaban b. Koding Penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data yang telah diedit sehingga memudahkan dalam analisis data. c. Tabulasi Untuk mengetahui karakteristik sampel dalam bentuk tabel-tabel. d. Analiting Menganalisa data-data dalam tabel dan dianalisis secara narasi 4.7 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk narasi tabel distribusi frekuensi. 4.8 Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa data bevariate yang dilakukan oleh 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002). Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus hubungan pengetahuan dengan pemberian PASI : Keterangan : X2 : Chi Kuadrat O : nilai hasil pengamatan E : Nilai ekspektasi (Eko Budianto, SKM) Sedangkan penentuan tingkat pengetahuan ibu dinilai sebagai berikut : X : Mean = Rata-rata 1. Pengetahuan baik jika skor Responden > X 2. Pengetahuan kurang jika skor responden < X BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Wilayah Obyek Penelitian 5.1.1 Analisa Situasi Puskesmas pembantu Sumberrejo adalah salah satu Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerja Peskesmas Batanghari, yang meliputi seluruh desa Sumberrejo dan Desa Banjar Rejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. a. Batas Wilayah Puskesmas Pembantu Sumber Rejo terletak di Dusun Ngudi Rahayu Desa Sumber Rejo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah utara : dengan Desa Bumiharjo dan Kelurahan Iringmulyo 2) Sebelah selatan : dengan Desa Telogorejo 3) Sebelah barat : dengan Kelurahan Tejosari 4) Sebelah timur : dengan Desa Banjarjoyo Adapun jarak tempuh ke Puskesmas induk + 5 km b. Sumber Daya dan Tenaga Kerja Sumber daya dan tenaga kerja yang terdapat di Puskesmas Pembantu Sumber Rejo adalah : 1) Tenaga bidan : 2 orang 2) Tenaga perawat : 1 orang c. Sarana dan Fasilitas 1) BP set 2) IUD set dan meja ginecologie 3) Alat-alat meubeler lainnya 4) Sarana fisik terdiri dari lahan dengan ukuran 577,5 m2 dengan ukuran gedung 15 x 5 m d. Sumber Daya Masyarakat Sumber daya masyarakat di wilayah Puskesmas Pembantu Sumberrejo diantaranya : 1) Posyandu : 13 Pos a) 5 pos di Sumberrejo b) 8 pos di Banjarrejo 2) Kader : 64 orang a) 24 orang di Sumberrejo b) 40 orang di Banjarrejo e. Sarana Pendidikan 1) TK : 6 buah 2) SD / MI : 6 buah f. Tempat Ibadah 1) Masjid : 5 buah 2) Pesantren : 1 buah (Ponpes Mambaul Huda di Desa Sumberrejo) 2. Keadaan Alam Batanghari terdiri dari dataran rendah, dengan iklim hujan dan kemarau yang sama dengan iklim Indonesia serta curah hujan 2000-300 mm/tahun. 5.1.2 Keadaan Masyarakat Kegiatan masyarakat didominasi oleh nilai kekeluargaan dan gotong royong penyajian merupakan kegiatan yang dapat mempersatukan masyarakat dan bagi para pemuda di Desa Batanghari terdapat kegiatan Karang Taruna dan Risma yang berorientasi pada kegiatan di masing-masing dusun. Hubungan antar dusun di Wilayah Desa Batanghari ini cukup baik. Kegiatan kesehatanpun telah berjalan, dengan adanya bidan desa dan kegiatan Posyandu tiap bulannya. 5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Karakteristik Responden Setelah dilakukan penelitian terhadap pemberian PASI diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Umur PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. < 20 1 5 3 15 4 2. 20 – 35 5 20 6 35 11 3. > 35 2 10 3 15 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 20 orang ibu menyusui yang memberikan PASI diwilayah Puskesmas Pembantu Batanghari yang berumur < 20 tahun yaitu 1orang (5%) yang tidak memberikan PASI ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 4 orang (20%). Ibu yang berumur 20 – 35 tahun yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 6 Orang (30%) dengan jumlah total 11 orang (55%) sedangkan ibu yang berumur > 35 tahun yang memberikan PASI ada 2 orang (10%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Paritas di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Paritas PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. 1 3 15 3 15 6 2. 2 – 4 5 25 5 25 10 3. > 4 - - 4 20 4 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa paritas satu ibu-ibu yang memberikan PASI di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 6 orang (30%). Parias ibu 2 – 4 yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 5 orang (25%) dengan jumlah total 10 orang (50%) sedangkan Paritas Ibu > 4 yang tidak memberikan PASI ada 4 (20%). Tabel 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pendidikan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. SD 1 15 2 10 3 2. SMP 4 20 6 30 10 3. SMA 2 10 3 15 5 4. PT 1 5 1 5 2 Dari Tabel diatas diketahui bahwa pendidikan ibu yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari di lihat dari tingkat pendidikan SD yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), pendidikan SMP yang memberikan PASI ada 4 orang (20%), yang tidak memberikan ada 6 orang (30%) dengan jumlah total 10 orang (50%), pendidikan SMA yang memberikan PASI ada 2 orang (10%), yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 (25%) sedangkan Perguruan Tinggi yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 2 orang (10%). Tabel 5.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pekerjaan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. PNS 1 5 2 10 3 2. SWASTA 3 15 9 45 12 3. IRT 4 20 1 5 5 Dari tabel diatas diketahui bahwa ibu-ibu yang bekerja sebagai PNS yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), ibu yang bekerja sebagai wiraswasta yang memberikan PASI ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 9 orang (45%) dengan jumlah total 12 orang (60%), sedang ibu-ibu yang bekerja sebagai IRT yang memberikan PASI ada 4 orang (20%) yang tidak memberikan PASI ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Terhadap Pemberian PASI No. Pengetahuan PASI Jumlah X2 Hitung X2 Tabel P Diberikan Tidak Diberikan 1 Baik 4 5 9 X2 = 0,11 P = 5,991 P > 0,05 2 Kurang 4 7 11 Total 8 12 20 Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI dipergunakan Uji Analisis Chi-Kuadrat dengan tingkat kepercayaan 5 % (α = 0,05), maka diperoleh nilai X2 hitung 0,11 dan X2 tabel 5,991, sehingga X2 hitung < X2 tabel, maka tidak ada hubungan antara Pengetahuan dengan Pemberian PASI. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dalam penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Karakteristik Ibu (Umur, Paritas, Pendidikan dan Pekerjaan) Sebagian besar ibu-ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari berdasarkan umur 20 – 35 tahun (55%) umur diatas 35 tahun tidak menaikkan risiko untuk menyusui secara non eksklusif, Paritas 2 – 3 atau 50% kelompok Multi Paritas sebagian besar mempunyai motivasi untuk pemberian PASI. Pendidikan SMP 50% ibu-ibu terpelajar lebih menyadari keuntungan psikologis dan fisiologis dari menyusui. Sedangkan ibu-ibu yang bekerja sebagai wiraswasta (60%) ibu-ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengganti air susu ibu. 7.1.2 Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang ASI terhadap pemberian PASI. Sebagian besar ibu-ibu hanya sekedar tahu dan belum memahami sehingga sulit untuk diterapkan. 7.2 Saran 7.2.1 Kepada Petugas Puskesmas Diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang menambah informasi atau pengetahuan yang membuat ibu-ibu menyusui tidak memberikan makanan Pendamping ASI (PASI) pada bayi 0-6 bulan, baik melalui penyuluhan atau bekerjasama kader, tokoh masyarakat. 7.2.2 Institusi Pendidikan Kesehatan Sebagai sumber bacaan di instansi Akademi Kebidanan Wirabuana Metro. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai data atau bahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, serta dapat meningkatkan hasil penelitiannya dan dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan penulis dalam penelitian ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Republik Indonesia adalah negara yang memiliki tujuan nasional dan cita-cita luhur yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dipersiapkan secara dini sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Muchtadi, 2002). Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997). Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997). Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986). Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998). Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id) Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Lampung adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Lampung Timur adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Lampung Timur 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Batanghari hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006). Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung Timur 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Batanghari terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.3 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.4 Pertanyaan Penelitian Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Batanghari Lampung Timur. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.5.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan Wirabuana. Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya. 1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Batanghari Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui. 1.6.3 Bagi Ibu Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI 1.6.4 Bagi Penulis Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu. 1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif 1.7.2 Objek penelitian : a. Variabel Terikat : PASI b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI 1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan 1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20). 2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993). 2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup. b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya. c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin e. Menyusui bayi lebih sering f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya. 2.2 Pengertian PASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999). PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan. PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59). Indikasi pemberian PASI : 1. Ibu Menderita Demam Tinggi. 2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah. 3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid 4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu. 2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan? PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti : - Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada - Ibu meninggal dunia - Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat - Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain - Anak sakit dan dirawat dirumah sakit. Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain : 1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan. 2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas. 3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu. 4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal 2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol 1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat). 2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat. 3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan. Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73). Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi 1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk) a. Susu sapi b. Susu kerbau 2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder) 3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah) 4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk) 5. Susu Asam (Yoghurt) 6. Susu Formula (Adapted) Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43). 2.3 Faktor Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian. Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan. Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut : 1. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) 4. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas. 2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti : - Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI - Bayi menangis terlalu sering - Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993). Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000). Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000). Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000). a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara. b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi. c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya. d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi. e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar. f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik. g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya. h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah. Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara : a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar. b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu. c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI. d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar. 2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain: 1. Perubahan sosial budaya - Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya. - Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. - Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya. 2. Faktor Psikologis - Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita. - Tekanan batin. 3. Faktor Fisik Ibu - Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya. 4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002) BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi berusia 0-6 bulan merupakan masalah yang nyata bagi ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan. Karena masih banyaknya ibu menyusui yang memberikan PASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan : Variabel Dependen Variabel Independen Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hubungan tingkat pengetahuan diberikannya PASI usia 0 – 6 bulan, sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan : Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Yang Diteliti Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang ASI dan PASI Kuesioner Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Nominal 2. Pemberian PASI Makanan tambahan yang diberikan pada bayi 0-6 bulan selain ASI Kuesioner Memberikan Tidak memberikan Nominal 3.3 Hipotesa Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI HA : Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI Ho : Diterima Jika < BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002). Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran atau deskriptif yang menggambarkan variable-variabel penelitian tentang pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Adalah subyek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama menurut (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur yang berjumlah 20 orang dari 100 orang (Laporan Puskesmas Pembantu Batanghari). 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (S. Notoatmodjo, 2002:79),besarnya sampel dalam penelitian yaitu di ambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% maka sampel yang diambil adalah 100 x 20% = 20 orang yang menjadi sampel. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel accidental. 4.4 Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, penulis mengikuti kegiatan di 5 Posyandu dengan penelitian langsung terhadap obyek yang teliti dalam hal ini ibu-ibu menyusui yang tidak memberikan ASI secara eksklusif di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan instrumen angket / quisioner. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dibagikan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Langkah-langkah yang ditempuh dalam Pengkumpulan Data pada Penelitian ini meliputi : 4.4.1 Langkah Persiapan 1. Mempersiapkan Instrumen Penelitian 2. Melakukan penjajakan kepada responden untuk kemungkinan dilakukan penelitian 3. Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian. 4.4.2 Langkah Pelaksanaan Setelah dilakukan Persiapan penelitian maka dilakukan Pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memperbanyak kuesioner. 2. Membagikan kuesioner kepada responden. 3. Menetepkan subjek penelitian dengan jumlah 20 responden yang diambil secera kebetulan ada. 4. Setelah didapatkan subjek dengan jumlah 20 responden, jsawaban akan dianalisis. 5. Setelah kuesioner diisi maka diperoleh data yang kemudian dilakukan tabulasi data yang didapatkan dari hasil kuesioner tersebut. 6. Kemudian dilakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh. 4.5 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah berupa angket / kuesioner yang berupa daftar pertanyaan tertutup yang telah disusun. Jumlah pertanyaan adalah 20 item untuk mengukur pengetahuan dengan alternatif jawaban “B” dan “S” jika jawaban “Benar” diberi nilai 1 dan jika “Salah” diberi nilai 0. Petanyaan meliputi Manfaat ASI, Pengertian PASI, da Dampak Negatif PASI, dengan nomor soal terlihat paa tabel berikut : Tabel 2. Daftar Kisi-Kisi Pengetahuan No. Pengetahuan Jumlah Soal No. Soal 1 2 3 Manfaat ASI Pengerian PASI Dampak negatif PASI 8 5 5 1-8 9-14 15-20 4.6 Pengolahan Data Langkah-langkah dalam pengolahan data peneliti adalah : a. Editing Meneliti kembali angket mengenai kelengkapan dan relevansi jawaban b. Koding Penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data yang telah diedit sehingga memudahkan dalam analisis data. c. Tabulasi Untuk mengetahui karakteristik sampel dalam bentuk tabel-tabel. d. Analiting Menganalisa data-data dalam tabel dan dianalisis secara narasi 4.7 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk narasi tabel distribusi frekuensi. 4.8 Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa data bevariate yang dilakukan oleh 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002). Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus hubungan pengetahuan dengan pemberian PASI : Keterangan : X2 : Chi Kuadrat O : nilai hasil pengamatan E : Nilai ekspektasi (Eko Budianto, SKM) Sedangkan penentuan tingkat pengetahuan ibu dinilai sebagai berikut : X : Mean = Rata-rata 1. Pengetahuan baik jika skor Responden > X 2. Pengetahuan kurang jika skor responden < X BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Wilayah Obyek Penelitian 5.1.1 Analisa Situasi Puskesmas pembantu Sumberrejo adalah salah satu Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerja Peskesmas Batanghari, yang meliputi seluruh desa Sumberrejo dan Desa Banjar Rejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. a. Batas Wilayah Puskesmas Pembantu Sumber Rejo terletak di Dusun Ngudi Rahayu Desa Sumber Rejo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah utara : dengan Desa Bumiharjo dan Kelurahan Iringmulyo 2) Sebelah selatan : dengan Desa Telogorejo 3) Sebelah barat : dengan Kelurahan Tejosari 4) Sebelah timur : dengan Desa Banjarjoyo Adapun jarak tempuh ke Puskesmas induk + 5 km b. Sumber Daya dan Tenaga Kerja Sumber daya dan tenaga kerja yang terdapat di Puskesmas Pembantu Sumber Rejo adalah : 1) Tenaga bidan : 2 orang 2) Tenaga perawat : 1 orang c. Sarana dan Fasilitas 1) BP set 2) IUD set dan meja ginecologie 3) Alat-alat meubeler lainnya 4) Sarana fisik terdiri dari lahan dengan ukuran 577,5 m2 dengan ukuran gedung 15 x 5 m d. Sumber Daya Masyarakat Sumber daya masyarakat di wilayah Puskesmas Pembantu Sumberrejo diantaranya : 1) Posyandu : 13 Pos a) 5 pos di Sumberrejo b) 8 pos di Banjarrejo 2) Kader : 64 orang a) 24 orang di Sumberrejo b) 40 orang di Banjarrejo e. Sarana Pendidikan 1) TK : 6 buah 2) SD / MI : 6 buah f. Tempat Ibadah 1) Masjid : 5 buah 2) Pesantren : 1 buah (Ponpes Mambaul Huda di Desa Sumberrejo) 2. Keadaan Alam Batanghari terdiri dari dataran rendah, dengan iklim hujan dan kemarau yang sama dengan iklim Indonesia serta curah hujan 2000-300 mm/tahun. 5.1.2 Keadaan Masyarakat Kegiatan masyarakat didominasi oleh nilai kekeluargaan dan gotong royong penyajian merupakan kegiatan yang dapat mempersatukan masyarakat dan bagi para pemuda di Desa Batanghari terdapat kegiatan Karang Taruna dan Risma yang berorientasi pada kegiatan di masing-masing dusun. Hubungan antar dusun di Wilayah Desa Batanghari ini cukup baik. Kegiatan kesehatanpun telah berjalan, dengan adanya bidan desa dan kegiatan Posyandu tiap bulannya. 5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Karakteristik Responden Setelah dilakukan penelitian terhadap pemberian PASI diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Umur PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. < 20 1 5 3 15 4 2. 20 – 35 5 20 6 35 11 3. > 35 2 10 3 15 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 20 orang ibu menyusui yang memberikan PASI diwilayah Puskesmas Pembantu Batanghari yang berumur < 20 tahun yaitu 1orang (5%) yang tidak memberikan PASI ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 4 orang (20%). Ibu yang berumur 20 – 35 tahun yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 6 Orang (30%) dengan jumlah total 11 orang (55%) sedangkan ibu yang berumur > 35 tahun yang memberikan PASI ada 2 orang (10%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Paritas di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Paritas PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. 1 3 15 3 15 6 2. 2 – 4 5 25 5 25 10 3. > 4 - - 4 20 4 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa paritas satu ibu-ibu yang memberikan PASI di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 6 orang (30%). Parias ibu 2 – 4 yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 5 orang (25%) dengan jumlah total 10 orang (50%) sedangkan Paritas Ibu > 4 yang tidak memberikan PASI ada 4 (20%). Tabel 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pendidikan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. SD 1 15 2 10 3 2. SMP 4 20 6 30 10 3. SMA 2 10 3 15 5 4. PT 1 5 1 5 2 Dari Tabel diatas diketahui bahwa pendidikan ibu yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari di lihat dari tingkat pendidikan SD yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), pendidikan SMP yang memberikan PASI ada 4 orang (20%), yang tidak memberikan ada 6 orang (30%) dengan jumlah total 10 orang (50%), pendidikan SMA yang memberikan PASI ada 2 orang (10%), yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 (25%) sedangkan Perguruan Tinggi yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 2 orang (10%). Tabel 5.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pekerjaan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. PNS 1 5 2 10 3 2. SWASTA 3 15 9 45 12 3. IRT 4 20 1 5 5 Dari tabel diatas diketahui bahwa ibu-ibu yang bekerja sebagai PNS yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), ibu yang bekerja sebagai wiraswasta yang memberikan PASI ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 9 orang (45%) dengan jumlah total 12 orang (60%), sedang ibu-ibu yang bekerja sebagai IRT yang memberikan PASI ada 4 orang (20%) yang tidak memberikan PASI ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Terhadap Pemberian PASI No. Pengetahuan PASI Jumlah X2 Hitung X2 Tabel P Diberikan Tidak Diberikan 1 Baik 4 5 9 X2 = 0,11 P = 5,991 P > 0,05 2 Kurang 4 7 11 Total 8 12 20 Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI dipergunakan Uji Analisis Chi-Kuadrat dengan tingkat kepercayaan 5 % (α = 0,05), maka diperoleh nilai X2 hitung 0,11 dan X2 tabel 5,991, sehingga X2 hitung < X2 tabel, maka tidak ada hubungan antara Pengetahuan dengan Pemberian PASI. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dalam penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Karakteristik Ibu (Umur, Paritas, Pendidikan dan Pekerjaan) Sebagian besar ibu-ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari berdasarkan umur 20 – 35 tahun (55%) umur diatas 35 tahun tidak menaikkan risiko untuk menyusui secara non eksklusif, Paritas 2 – 3 atau 50% kelompok Multi Paritas sebagian besar mempunyai motivasi untuk pemberian PASI. Pendidikan SMP 50% ibu-ibu terpelajar lebih menyadari keuntungan psikologis dan fisiologis dari menyusui. Sedangkan ibu-ibu yang bekerja sebagai wiraswasta (60%) ibu-ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengganti air susu ibu. 7.1.2 Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang ASI terhadap pemberian PASI. Sebagian besar ibu-ibu hanya sekedar tahu dan belum memahami sehingga sulit untuk diterapkan. 7.2 Saran 7.2.1 Kepada Petugas Puskesmas Diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang menambah informasi atau pengetahuan yang membuat ibu-ibu menyusui tidak memberikan makanan Pendamping ASI (PASI) pada bayi 0-6 bulan, baik melalui penyuluhan atau bekerjasama kader, tokoh masyarakat. 7.2.2 Institusi Pendidikan Kesehatan Sebagai sumber bacaan di instansi Akademi Kebidanan Wirabuana Metro. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai data atau bahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, serta dapat meningkatkan hasil penelitiannya dan dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan penulis dalam penelitian ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Republik Indonesia adalah negara yang memiliki tujuan nasional dan cita-cita luhur yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dipersiapkan secara dini sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Muchtadi, 2002). Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997). Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997). Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986). Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998). Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id) Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Lampung adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Lampung Timur adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Lampung Timur 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Batanghari hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006). Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung Timur 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Batanghari terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.3 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.4 Pertanyaan Penelitian Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Batanghari Lampung Timur. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.5.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan Wirabuana. Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya. 1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Batanghari Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui. 1.6.3 Bagi Ibu Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI 1.6.4 Bagi Penulis Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu. 1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif 1.7.2 Objek penelitian : a. Variabel Terikat : PASI b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI 1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan 1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20). 2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993). 2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup. b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya. c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin e. Menyusui bayi lebih sering f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya. 2.2 Pengertian PASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999). PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan. PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59). Indikasi pemberian PASI : 1. Ibu Menderita Demam Tinggi. 2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah. 3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid 4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu. 2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan? PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti : - Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada - Ibu meninggal dunia - Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat - Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain - Anak sakit dan dirawat dirumah sakit. Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain : 1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan. 2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas. 3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu. 4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal 2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol 1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat). 2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat. 3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan. Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73). Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi 1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk) a. Susu sapi b. Susu kerbau 2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder) 3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah) 4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk) 5. Susu Asam (Yoghurt) 6. Susu Formula (Adapted) Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43). 2.3 Faktor Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian. Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan. Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut : 1. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) 4. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas. 2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti : - Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI - Bayi menangis terlalu sering - Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993). Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000). Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000). Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000). a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara. b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi. c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya. d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi. e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar. f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik. g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya. h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah. Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara : a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar. b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu. c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI. d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar. 2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain: 1. Perubahan sosial budaya - Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya. - Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. - Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya. 2. Faktor Psikologis - Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita. - Tekanan batin. 3. Faktor Fisik Ibu - Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya. 4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002) BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi berusia 0-6 bulan merupakan masalah yang nyata bagi ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan. Karena masih banyaknya ibu menyusui yang memberikan PASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan : Variabel Dependen Variabel Independen Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hubungan tingkat pengetahuan diberikannya PASI usia 0 – 6 bulan, sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan : Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Yang Diteliti Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang ASI dan PASI Kuesioner Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Nominal 2. Pemberian PASI Makanan tambahan yang diberikan pada bayi 0-6 bulan selain ASI Kuesioner Memberikan Tidak memberikan Nominal 3.3 Hipotesa Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI HA : Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI Ho : Diterima Jika < BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002). Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran atau deskriptif yang menggambarkan variable-variabel penelitian tentang pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Adalah subyek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama menurut (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur yang berjumlah 20 orang dari 100 orang (Laporan Puskesmas Pembantu Batanghari). 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (S. Notoatmodjo, 2002:79),besarnya sampel dalam penelitian yaitu di ambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% maka sampel yang diambil adalah 100 x 20% = 20 orang yang menjadi sampel. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel accidental. 4.4 Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, penulis mengikuti kegiatan di 5 Posyandu dengan penelitian langsung terhadap obyek yang teliti dalam hal ini ibu-ibu menyusui yang tidak memberikan ASI secara eksklusif di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan instrumen angket / quisioner. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dibagikan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Langkah-langkah yang ditempuh dalam Pengkumpulan Data pada Penelitian ini meliputi : 4.4.1 Langkah Persiapan 1. Mempersiapkan Instrumen Penelitian 2. Melakukan penjajakan kepada responden untuk kemungkinan dilakukan penelitian 3. Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian. 4.4.2 Langkah Pelaksanaan Setelah dilakukan Persiapan penelitian maka dilakukan Pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memperbanyak kuesioner. 2. Membagikan kuesioner kepada responden. 3. Menetepkan subjek penelitian dengan jumlah 20 responden yang diambil secera kebetulan ada. 4. Setelah didapatkan subjek dengan jumlah 20 responden, jsawaban akan dianalisis. 5. Setelah kuesioner diisi maka diperoleh data yang kemudian dilakukan tabulasi data yang didapatkan dari hasil kuesioner tersebut. 6. Kemudian dilakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh. 4.5 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah berupa angket / kuesioner yang berupa daftar pertanyaan tertutup yang telah disusun. Jumlah pertanyaan adalah 20 item untuk mengukur pengetahuan dengan alternatif jawaban “B” dan “S” jika jawaban “Benar” diberi nilai 1 dan jika “Salah” diberi nilai 0. Petanyaan meliputi Manfaat ASI, Pengertian PASI, da Dampak Negatif PASI, dengan nomor soal terlihat paa tabel berikut : Tabel 2. Daftar Kisi-Kisi Pengetahuan No. Pengetahuan Jumlah Soal No. Soal 1 2 3 Manfaat ASI Pengerian PASI Dampak negatif PASI 8 5 5 1-8 9-14 15-20 4.6 Pengolahan Data Langkah-langkah dalam pengolahan data peneliti adalah : a. Editing Meneliti kembali angket mengenai kelengkapan dan relevansi jawaban b. Koding Penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data yang telah diedit sehingga memudahkan dalam analisis data. c. Tabulasi Untuk mengetahui karakteristik sampel dalam bentuk tabel-tabel. d. Analiting Menganalisa data-data dalam tabel dan dianalisis secara narasi 4.7 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk narasi tabel distribusi frekuensi. 4.8 Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa data bevariate yang dilakukan oleh 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002). Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus hubungan pengetahuan dengan pemberian PASI : Keterangan : X2 : Chi Kuadrat O : nilai hasil pengamatan E : Nilai ekspektasi (Eko Budianto, SKM) Sedangkan penentuan tingkat pengetahuan ibu dinilai sebagai berikut : X : Mean = Rata-rata 1. Pengetahuan baik jika skor Responden > X 2. Pengetahuan kurang jika skor responden < X BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Wilayah Obyek Penelitian 5.1.1 Analisa Situasi Puskesmas pembantu Sumberrejo adalah salah satu Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerja Peskesmas Batanghari, yang meliputi seluruh desa Sumberrejo dan Desa Banjar Rejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. a. Batas Wilayah Puskesmas Pembantu Sumber Rejo terletak di Dusun Ngudi Rahayu Desa Sumber Rejo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah utara : dengan Desa Bumiharjo dan Kelurahan Iringmulyo 2) Sebelah selatan : dengan Desa Telogorejo 3) Sebelah barat : dengan Kelurahan Tejosari 4) Sebelah timur : dengan Desa Banjarjoyo Adapun jarak tempuh ke Puskesmas induk + 5 km b. Sumber Daya dan Tenaga Kerja Sumber daya dan tenaga kerja yang terdapat di Puskesmas Pembantu Sumber Rejo adalah : 1) Tenaga bidan : 2 orang 2) Tenaga perawat : 1 orang c. Sarana dan Fasilitas 1) BP set 2) IUD set dan meja ginecologie 3) Alat-alat meubeler lainnya 4) Sarana fisik terdiri dari lahan dengan ukuran 577,5 m2 dengan ukuran gedung 15 x 5 m d. Sumber Daya Masyarakat Sumber daya masyarakat di wilayah Puskesmas Pembantu Sumberrejo diantaranya : 1) Posyandu : 13 Pos a) 5 pos di Sumberrejo b) 8 pos di Banjarrejo 2) Kader : 64 orang a) 24 orang di Sumberrejo b) 40 orang di Banjarrejo e. Sarana Pendidikan 1) TK : 6 buah 2) SD / MI : 6 buah f. Tempat Ibadah 1) Masjid : 5 buah 2) Pesantren : 1 buah (Ponpes Mambaul Huda di Desa Sumberrejo) 2. Keadaan Alam Batanghari terdiri dari dataran rendah, dengan iklim hujan dan kemarau yang sama dengan iklim Indonesia serta curah hujan 2000-300 mm/tahun. 5.1.2 Keadaan Masyarakat Kegiatan masyarakat didominasi oleh nilai kekeluargaan dan gotong royong penyajian merupakan kegiatan yang dapat mempersatukan masyarakat dan bagi para pemuda di Desa Batanghari terdapat kegiatan Karang Taruna dan Risma yang berorientasi pada kegiatan di masing-masing dusun. Hubungan antar dusun di Wilayah Desa Batanghari ini cukup baik. Kegiatan kesehatanpun telah berjalan, dengan adanya bidan desa dan kegiatan Posyandu tiap bulannya. 5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Karakteristik Responden Setelah dilakukan penelitian terhadap pemberian PASI diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Umur PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. < 20 1 5 3 15 4 2. 20 – 35 5 20 6 35 11 3. > 35 2 10 3 15 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 20 orang ibu menyusui yang memberikan PASI diwilayah Puskesmas Pembantu Batanghari yang berumur < 20 tahun yaitu 1orang (5%) yang tidak memberikan PASI ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 4 orang (20%). Ibu yang berumur 20 – 35 tahun yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 6 Orang (30%) dengan jumlah total 11 orang (55%) sedangkan ibu yang berumur > 35 tahun yang memberikan PASI ada 2 orang (10%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Paritas di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Paritas PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. 1 3 15 3 15 6 2. 2 – 4 5 25 5 25 10 3. > 4 - - 4 20 4 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa paritas satu ibu-ibu yang memberikan PASI di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 6 orang (30%). Parias ibu 2 – 4 yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 5 orang (25%) dengan jumlah total 10 orang (50%) sedangkan Paritas Ibu > 4 yang tidak memberikan PASI ada 4 (20%). Tabel 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pendidikan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. SD 1 15 2 10 3 2. SMP 4 20 6 30 10 3. SMA 2 10 3 15 5 4. PT 1 5 1 5 2 Dari Tabel diatas diketahui bahwa pendidikan ibu yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari di lihat dari tingkat pendidikan SD yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), pendidikan SMP yang memberikan PASI ada 4 orang (20%), yang tidak memberikan ada 6 orang (30%) dengan jumlah total 10 orang (50%), pendidikan SMA yang memberikan PASI ada 2 orang (10%), yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 (25%) sedangkan Perguruan Tinggi yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 2 orang (10%). Tabel 5.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pekerjaan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. PNS 1 5 2 10 3 2. SWASTA 3 15 9 45 12 3. IRT 4 20 1 5 5 Dari tabel diatas diketahui bahwa ibu-ibu yang bekerja sebagai PNS yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), ibu yang bekerja sebagai wiraswasta yang memberikan PASI ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 9 orang (45%) dengan jumlah total 12 orang (60%), sedang ibu-ibu yang bekerja sebagai IRT yang memberikan PASI ada 4 orang (20%) yang tidak memberikan PASI ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Terhadap Pemberian PASI No. Pengetahuan PASI Jumlah X2 Hitung X2 Tabel P Diberikan Tidak Diberikan 1 Baik 4 5 9 X2 = 0,11 P = 5,991 P > 0,05 2 Kurang 4 7 11 Total 8 12 20 Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI dipergunakan Uji Analisis Chi-Kuadrat dengan tingkat kepercayaan 5 % (α = 0,05), maka diperoleh nilai X2 hitung 0,11 dan X2 tabel 5,991, sehingga X2 hitung < X2 tabel, maka tidak ada hubungan antara Pengetahuan dengan Pemberian PASI. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dalam penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Karakteristik Ibu (Umur, Paritas, Pendidikan dan Pekerjaan) Sebagian besar ibu-ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari berdasarkan umur 20 – 35 tahun (55%) umur diatas 35 tahun tidak menaikkan risiko untuk menyusui secara non eksklusif, Paritas 2 – 3 atau 50% kelompok Multi Paritas sebagian besar mempunyai motivasi untuk pemberian PASI. Pendidikan SMP 50% ibu-ibu terpelajar lebih menyadari keuntungan psikologis dan fisiologis dari menyusui. Sedangkan ibu-ibu yang bekerja sebagai wiraswasta (60%) ibu-ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengganti air susu ibu. 7.1.2 Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang ASI terhadap pemberian PASI. Sebagian besar ibu-ibu hanya sekedar tahu dan belum memahami sehingga sulit untuk diterapkan. 7.2 Saran 7.2.1 Kepada Petugas Puskesmas Diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang menambah informasi atau pengetahuan yang membuat ibu-ibu menyusui tidak memberikan makanan Pendamping ASI (PASI) pada bayi 0-6 bulan, baik melalui penyuluhan atau bekerjasama kader, tokoh masyarakat. 7.2.2 Institusi Pendidikan Kesehatan Sebagai sumber bacaan di instansi Akademi Kebidanan Wirabuana Metro. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai data atau bahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, serta dapat meningkatkan hasil penelitiannya dan dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan penulis dalam penelitian ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Republik Indonesia adalah negara yang memiliki tujuan nasional dan cita-cita luhur yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dipersiapkan secara dini sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Muchtadi, 2002). Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997). Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997). Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986). Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998). Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id) Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Lampung adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Lampung Timur adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Lampung Timur 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Batanghari hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006). Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung Timur 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Batanghari terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.3 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.4 Pertanyaan Penelitian Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Batanghari Lampung Timur. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.5.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan Wirabuana. Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya. 1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Batanghari Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui. 1.6.3 Bagi Ibu Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI 1.6.4 Bagi Penulis Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu. 1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif 1.7.2 Objek penelitian : a. Variabel Terikat : PASI b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI 1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan 1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20). 2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993). 2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup. b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya. c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin e. Menyusui bayi lebih sering f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya. 2.2 Pengertian PASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999). PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan. PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59). Indikasi pemberian PASI : 1. Ibu Menderita Demam Tinggi. 2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah. 3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid 4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu. 2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan? PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti : - Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada - Ibu meninggal dunia - Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat - Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain - Anak sakit dan dirawat dirumah sakit. Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain : 1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan. 2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas. 3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu. 4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal 2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol 1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat). 2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat. 3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan. Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73). Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi 1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk) a. Susu sapi b. Susu kerbau 2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder) 3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah) 4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk) 5. Susu Asam (Yoghurt) 6. Susu Formula (Adapted) Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43). 2.3 Faktor Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian. Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan. Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut : 1. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) 4. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas. 2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti : - Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI - Bayi menangis terlalu sering - Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993). Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000). Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000). Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000). a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara. b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi. c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya. d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi. e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar. f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik. g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya. h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah. Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara : a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar. b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu. c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI. d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar. 2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain: 1. Perubahan sosial budaya - Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya. - Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. - Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya. 2. Faktor Psikologis - Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita. - Tekanan batin. 3. Faktor Fisik Ibu - Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya. 4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002) BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi berusia 0-6 bulan merupakan masalah yang nyata bagi ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan. Karena masih banyaknya ibu menyusui yang memberikan PASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan : Variabel Dependen Variabel Independen Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hubungan tingkat pengetahuan diberikannya PASI usia 0 – 6 bulan, sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan : Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Yang Diteliti Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang ASI dan PASI Kuesioner Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Nominal 2. Pemberian PASI Makanan tambahan yang diberikan pada bayi 0-6 bulan selain ASI Kuesioner Memberikan Tidak memberikan Nominal 3.3 Hipotesa Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI HA : Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI Ho : Diterima Jika < BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002). Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran atau deskriptif yang menggambarkan variable-variabel penelitian tentang pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Adalah subyek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama menurut (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur yang berjumlah 20 orang dari 100 orang (Laporan Puskesmas Pembantu Batanghari). 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (S. Notoatmodjo, 2002:79),besarnya sampel dalam penelitian yaitu di ambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% maka sampel yang diambil adalah 100 x 20% = 20 orang yang menjadi sampel. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel accidental. 4.4 Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, penulis mengikuti kegiatan di 5 Posyandu dengan penelitian langsung terhadap obyek yang teliti dalam hal ini ibu-ibu menyusui yang tidak memberikan ASI secara eksklusif di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan instrumen angket / quisioner. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dibagikan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Langkah-langkah yang ditempuh dalam Pengkumpulan Data pada Penelitian ini meliputi : 4.4.1 Langkah Persiapan 1. Mempersiapkan Instrumen Penelitian 2. Melakukan penjajakan kepada responden untuk kemungkinan dilakukan penelitian 3. Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian. 4.4.2 Langkah Pelaksanaan Setelah dilakukan Persiapan penelitian maka dilakukan Pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memperbanyak kuesioner. 2. Membagikan kuesioner kepada responden. 3. Menetepkan subjek penelitian dengan jumlah 20 responden yang diambil secera kebetulan ada. 4. Setelah didapatkan subjek dengan jumlah 20 responden, jsawaban akan dianalisis. 5. Setelah kuesioner diisi maka diperoleh data yang kemudian dilakukan tabulasi data yang didapatkan dari hasil kuesioner tersebut. 6. Kemudian dilakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh. 4.5 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah berupa angket / kuesioner yang berupa daftar pertanyaan tertutup yang telah disusun. Jumlah pertanyaan adalah 20 item untuk mengukur pengetahuan dengan alternatif jawaban “B” dan “S” jika jawaban “Benar” diberi nilai 1 dan jika “Salah” diberi nilai 0. Petanyaan meliputi Manfaat ASI, Pengertian PASI, da Dampak Negatif PASI, dengan nomor soal terlihat paa tabel berikut : Tabel 2. Daftar Kisi-Kisi Pengetahuan No. Pengetahuan Jumlah Soal No. Soal 1 2 3 Manfaat ASI Pengerian PASI Dampak negatif PASI 8 5 5 1-8 9-14 15-20 4.6 Pengolahan Data Langkah-langkah dalam pengolahan data peneliti adalah : a. Editing Meneliti kembali angket mengenai kelengkapan dan relevansi jawaban b. Koding Penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data yang telah diedit sehingga memudahkan dalam analisis data. c. Tabulasi Untuk mengetahui karakteristik sampel dalam bentuk tabel-tabel. d. Analiting Menganalisa data-data dalam tabel dan dianalisis secara narasi 4.7 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk narasi tabel distribusi frekuensi. 4.8 Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa data bevariate yang dilakukan oleh 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002). Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus hubungan pengetahuan dengan pemberian PASI : Keterangan : X2 : Chi Kuadrat O : nilai hasil pengamatan E : Nilai ekspektasi (Eko Budianto, SKM) Sedangkan penentuan tingkat pengetahuan ibu dinilai sebagai berikut : X : Mean = Rata-rata 1. Pengetahuan baik jika skor Responden > X 2. Pengetahuan kurang jika skor responden < X BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Wilayah Obyek Penelitian 5.1.1 Analisa Situasi Puskesmas pembantu Sumberrejo adalah salah satu Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerja Peskesmas Batanghari, yang meliputi seluruh desa Sumberrejo dan Desa Banjar Rejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. a. Batas Wilayah Puskesmas Pembantu Sumber Rejo terletak di Dusun Ngudi Rahayu Desa Sumber Rejo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah utara : dengan Desa Bumiharjo dan Kelurahan Iringmulyo 2) Sebelah selatan : dengan Desa Telogorejo 3) Sebelah barat : dengan Kelurahan Tejosari 4) Sebelah timur : dengan Desa Banjarjoyo Adapun jarak tempuh ke Puskesmas induk + 5 km b. Sumber Daya dan Tenaga Kerja Sumber daya dan tenaga kerja yang terdapat di Puskesmas Pembantu Sumber Rejo adalah : 1) Tenaga bidan : 2 orang 2) Tenaga perawat : 1 orang c. Sarana dan Fasilitas 1) BP set 2) IUD set dan meja ginecologie 3) Alat-alat meubeler lainnya 4) Sarana fisik terdiri dari lahan dengan ukuran 577,5 m2 dengan ukuran gedung 15 x 5 m d. Sumber Daya Masyarakat Sumber daya masyarakat di wilayah Puskesmas Pembantu Sumberrejo diantaranya : 1) Posyandu : 13 Pos a) 5 pos di Sumberrejo b) 8 pos di Banjarrejo 2) Kader : 64 orang a) 24 orang di Sumberrejo b) 40 orang di Banjarrejo e. Sarana Pendidikan 1) TK : 6 buah 2) SD / MI : 6 buah f. Tempat Ibadah 1) Masjid : 5 buah 2) Pesantren : 1 buah (Ponpes Mambaul Huda di Desa Sumberrejo) 2. Keadaan Alam Batanghari terdiri dari dataran rendah, dengan iklim hujan dan kemarau yang sama dengan iklim Indonesia serta curah hujan 2000-300 mm/tahun. 5.1.2 Keadaan Masyarakat Kegiatan masyarakat didominasi oleh nilai kekeluargaan dan gotong royong penyajian merupakan kegiatan yang dapat mempersatukan masyarakat dan bagi para pemuda di Desa Batanghari terdapat kegiatan Karang Taruna dan Risma yang berorientasi pada kegiatan di masing-masing dusun. Hubungan antar dusun di Wilayah Desa Batanghari ini cukup baik. Kegiatan kesehatanpun telah berjalan, dengan adanya bidan desa dan kegiatan Posyandu tiap bulannya. 5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Karakteristik Responden Setelah dilakukan penelitian terhadap pemberian PASI diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Umur PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. < 20 1 5 3 15 4 2. 20 – 35 5 20 6 35 11 3. > 35 2 10 3 15 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 20 orang ibu menyusui yang memberikan PASI diwilayah Puskesmas Pembantu Batanghari yang berumur < 20 tahun yaitu 1orang (5%) yang tidak memberikan PASI ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 4 orang (20%). Ibu yang berumur 20 – 35 tahun yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 6 Orang (30%) dengan jumlah total 11 orang (55%) sedangkan ibu yang berumur > 35 tahun yang memberikan PASI ada 2 orang (10%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Paritas di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Paritas PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. 1 3 15 3 15 6 2. 2 – 4 5 25 5 25 10 3. > 4 - - 4 20 4 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa paritas satu ibu-ibu yang memberikan PASI di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 6 orang (30%). Parias ibu 2 – 4 yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 5 orang (25%) dengan jumlah total 10 orang (50%) sedangkan Paritas Ibu > 4 yang tidak memberikan PASI ada 4 (20%). Tabel 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pendidikan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. SD 1 15 2 10 3 2. SMP 4 20 6 30 10 3. SMA 2 10 3 15 5 4. PT 1 5 1 5 2 Dari Tabel diatas diketahui bahwa pendidikan ibu yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari di lihat dari tingkat pendidikan SD yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), pendidikan SMP yang memberikan PASI ada 4 orang (20%), yang tidak memberikan ada 6 orang (30%) dengan jumlah total 10 orang (50%), pendidikan SMA yang memberikan PASI ada 2 orang (10%), yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 (25%) sedangkan Perguruan Tinggi yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 2 orang (10%). Tabel 5.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pekerjaan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. PNS 1 5 2 10 3 2. SWASTA 3 15 9 45 12 3. IRT 4 20 1 5 5 Dari tabel diatas diketahui bahwa ibu-ibu yang bekerja sebagai PNS yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), ibu yang bekerja sebagai wiraswasta yang memberikan PASI ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 9 orang (45%) dengan jumlah total 12 orang (60%), sedang ibu-ibu yang bekerja sebagai IRT yang memberikan PASI ada 4 orang (20%) yang tidak memberikan PASI ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Terhadap Pemberian PASI No. Pengetahuan PASI Jumlah X2 Hitung X2 Tabel P Diberikan Tidak Diberikan 1 Baik 4 5 9 X2 = 0,11 P = 5,991 P > 0,05 2 Kurang 4 7 11 Total 8 12 20 Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI dipergunakan Uji Analisis Chi-Kuadrat dengan tingkat kepercayaan 5 % (α = 0,05), maka diperoleh nilai X2 hitung 0,11 dan X2 tabel 5,991, sehingga X2 hitung < X2 tabel, maka tidak ada hubungan antara Pengetahuan dengan Pemberian PASI. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dalam penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Karakteristik Ibu (Umur, Paritas, Pendidikan dan Pekerjaan) Sebagian besar ibu-ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari berdasarkan umur 20 – 35 tahun (55%) umur diatas 35 tahun tidak menaikkan risiko untuk menyusui secara non eksklusif, Paritas 2 – 3 atau 50% kelompok Multi Paritas sebagian besar mempunyai motivasi untuk pemberian PASI. Pendidikan SMP 50% ibu-ibu terpelajar lebih menyadari keuntungan psikologis dan fisiologis dari menyusui. Sedangkan ibu-ibu yang bekerja sebagai wiraswasta (60%) ibu-ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengganti air susu ibu. 7.1.2 Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang ASI terhadap pemberian PASI. Sebagian besar ibu-ibu hanya sekedar tahu dan belum memahami sehingga sulit untuk diterapkan. 7.2 Saran 7.2.1 Kepada Petugas Puskesmas Diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang menambah informasi atau pengetahuan yang membuat ibu-ibu menyusui tidak memberikan makanan Pendamping ASI (PASI) pada bayi 0-6 bulan, baik melalui penyuluhan atau bekerjasama kader, tokoh masyarakat. 7.2.2 Institusi Pendidikan Kesehatan Sebagai sumber bacaan di instansi Akademi Kebidanan Wirabuana Metro. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai data atau bahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, serta dapat meningkatkan hasil penelitiannya dan dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan penulis dalam penelitian ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Republik Indonesia adalah negara yang memiliki tujuan nasional dan cita-cita luhur yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dipersiapkan secara dini sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Muchtadi, 2002). Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997). Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997). Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986). Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998). Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id) Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Lampung adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Lampung Timur adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Lampung Timur 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Batanghari hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006). Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung Timur 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Batanghari terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.3 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.4 Pertanyaan Penelitian Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Batanghari Lampung Timur. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.5.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan Wirabuana. Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya. 1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Batanghari Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui. 1.6.3 Bagi Ibu Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI 1.6.4 Bagi Penulis Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu. 1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif 1.7.2 Objek penelitian : a. Variabel Terikat : PASI b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI 1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan 1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20). 2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993). 2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup. b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya. c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin e. Menyusui bayi lebih sering f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya. 2.2 Pengertian PASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999). PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan. PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59). Indikasi pemberian PASI : 1. Ibu Menderita Demam Tinggi. 2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah. 3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid 4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu. 2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan? PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti : - Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada - Ibu meninggal dunia - Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat - Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain - Anak sakit dan dirawat dirumah sakit. Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain : 1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan. 2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas. 3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu. 4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal 2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol 1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat). 2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat. 3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan. Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73). Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi 1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk) a. Susu sapi b. Susu kerbau 2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder) 3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah) 4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk) 5. Susu Asam (Yoghurt) 6. Susu Formula (Adapted) Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43). 2.3 Faktor Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian. Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan. Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut : 1. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) 4. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas. 2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti : - Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI - Bayi menangis terlalu sering - Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993). Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000). Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000). Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000). a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara. b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi. c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya. d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi. e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar. f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik. g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya. h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah. Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara : a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar. b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu. c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI. d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar. 2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain: 1. Perubahan sosial budaya - Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya. - Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. - Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya. 2. Faktor Psikologis - Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita. - Tekanan batin. 3. Faktor Fisik Ibu - Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya. 4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002) BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi berusia 0-6 bulan merupakan masalah yang nyata bagi ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan. Karena masih banyaknya ibu menyusui yang memberikan PASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan : Variabel Dependen Variabel Independen Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hubungan tingkat pengetahuan diberikannya PASI usia 0 – 6 bulan, sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan : Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Yang Diteliti Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang ASI dan PASI Kuesioner Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Nominal 2. Pemberian PASI Makanan tambahan yang diberikan pada bayi 0-6 bulan selain ASI Kuesioner Memberikan Tidak memberikan Nominal 3.3 Hipotesa Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI HA : Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI Ho : Diterima Jika < BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002). Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran atau deskriptif yang menggambarkan variable-variabel penelitian tentang pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Adalah subyek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama menurut (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur yang berjumlah 20 orang dari 100 orang (Laporan Puskesmas Pembantu Batanghari). 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (S. Notoatmodjo, 2002:79),besarnya sampel dalam penelitian yaitu di ambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% maka sampel yang diambil adalah 100 x 20% = 20 orang yang menjadi sampel. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel accidental. 4.4 Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, penulis mengikuti kegiatan di 5 Posyandu dengan penelitian langsung terhadap obyek yang teliti dalam hal ini ibu-ibu menyusui yang tidak memberikan ASI secara eksklusif di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan instrumen angket / quisioner. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dibagikan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Langkah-langkah yang ditempuh dalam Pengkumpulan Data pada Penelitian ini meliputi : 4.4.1 Langkah Persiapan 1. Mempersiapkan Instrumen Penelitian 2. Melakukan penjajakan kepada responden untuk kemungkinan dilakukan penelitian 3. Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian. 4.4.2 Langkah Pelaksanaan Setelah dilakukan Persiapan penelitian maka dilakukan Pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memperbanyak kuesioner. 2. Membagikan kuesioner kepada responden. 3. Menetepkan subjek penelitian dengan jumlah 20 responden yang diambil secera kebetulan ada. 4. Setelah didapatkan subjek dengan jumlah 20 responden, jsawaban akan dianalisis. 5. Setelah kuesioner diisi maka diperoleh data yang kemudian dilakukan tabulasi data yang didapatkan dari hasil kuesioner tersebut. 6. Kemudian dilakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh. 4.5 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah berupa angket / kuesioner yang berupa daftar pertanyaan tertutup yang telah disusun. Jumlah pertanyaan adalah 20 item untuk mengukur pengetahuan dengan alternatif jawaban “B” dan “S” jika jawaban “Benar” diberi nilai 1 dan jika “Salah” diberi nilai 0. Petanyaan meliputi Manfaat ASI, Pengertian PASI, da Dampak Negatif PASI, dengan nomor soal terlihat paa tabel berikut : Tabel 2. Daftar Kisi-Kisi Pengetahuan No. Pengetahuan Jumlah Soal No. Soal 1 2 3 Manfaat ASI Pengerian PASI Dampak negatif PASI 8 5 5 1-8 9-14 15-20 4.6 Pengolahan Data Langkah-langkah dalam pengolahan data peneliti adalah : a. Editing Meneliti kembali angket mengenai kelengkapan dan relevansi jawaban b. Koding Penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data yang telah diedit sehingga memudahkan dalam analisis data. c. Tabulasi Untuk mengetahui karakteristik sampel dalam bentuk tabel-tabel. d. Analiting Menganalisa data-data dalam tabel dan dianalisis secara narasi 4.7 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk narasi tabel distribusi frekuensi. 4.8 Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa data bevariate yang dilakukan oleh 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002). Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus hubungan pengetahuan dengan pemberian PASI : Keterangan : X2 : Chi Kuadrat O : nilai hasil pengamatan E : Nilai ekspektasi (Eko Budianto, SKM) Sedangkan penentuan tingkat pengetahuan ibu dinilai sebagai berikut : X : Mean = Rata-rata 1. Pengetahuan baik jika skor Responden > X 2. Pengetahuan kurang jika skor responden < X BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Wilayah Obyek Penelitian 5.1.1 Analisa Situasi Puskesmas pembantu Sumberrejo adalah salah satu Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerja Peskesmas Batanghari, yang meliputi seluruh desa Sumberrejo dan Desa Banjar Rejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. a. Batas Wilayah Puskesmas Pembantu Sumber Rejo terletak di Dusun Ngudi Rahayu Desa Sumber Rejo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah utara : dengan Desa Bumiharjo dan Kelurahan Iringmulyo 2) Sebelah selatan : dengan Desa Telogorejo 3) Sebelah barat : dengan Kelurahan Tejosari 4) Sebelah timur : dengan Desa Banjarjoyo Adapun jarak tempuh ke Puskesmas induk + 5 km b. Sumber Daya dan Tenaga Kerja Sumber daya dan tenaga kerja yang terdapat di Puskesmas Pembantu Sumber Rejo adalah : 1) Tenaga bidan : 2 orang 2) Tenaga perawat : 1 orang c. Sarana dan Fasilitas 1) BP set 2) IUD set dan meja ginecologie 3) Alat-alat meubeler lainnya 4) Sarana fisik terdiri dari lahan dengan ukuran 577,5 m2 dengan ukuran gedung 15 x 5 m d. Sumber Daya Masyarakat Sumber daya masyarakat di wilayah Puskesmas Pembantu Sumberrejo diantaranya : 1) Posyandu : 13 Pos a) 5 pos di Sumberrejo b) 8 pos di Banjarrejo 2) Kader : 64 orang a) 24 orang di Sumberrejo b) 40 orang di Banjarrejo e. Sarana Pendidikan 1) TK : 6 buah 2) SD / MI : 6 buah f. Tempat Ibadah 1) Masjid : 5 buah 2) Pesantren : 1 buah (Ponpes Mambaul Huda di Desa Sumberrejo) 2. Keadaan Alam Batanghari terdiri dari dataran rendah, dengan iklim hujan dan kemarau yang sama dengan iklim Indonesia serta curah hujan 2000-300 mm/tahun. 5.1.2 Keadaan Masyarakat Kegiatan masyarakat didominasi oleh nilai kekeluargaan dan gotong royong penyajian merupakan kegiatan yang dapat mempersatukan masyarakat dan bagi para pemuda di Desa Batanghari terdapat kegiatan Karang Taruna dan Risma yang berorientasi pada kegiatan di masing-masing dusun. Hubungan antar dusun di Wilayah Desa Batanghari ini cukup baik. Kegiatan kesehatanpun telah berjalan, dengan adanya bidan desa dan kegiatan Posyandu tiap bulannya. 5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Karakteristik Responden Setelah dilakukan penelitian terhadap pemberian PASI diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Umur PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. < 20 1 5 3 15 4 2. 20 – 35 5 20 6 35 11 3. > 35 2 10 3 15 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 20 orang ibu menyusui yang memberikan PASI diwilayah Puskesmas Pembantu Batanghari yang berumur < 20 tahun yaitu 1orang (5%) yang tidak memberikan PASI ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 4 orang (20%). Ibu yang berumur 20 – 35 tahun yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 6 Orang (30%) dengan jumlah total 11 orang (55%) sedangkan ibu yang berumur > 35 tahun yang memberikan PASI ada 2 orang (10%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Paritas di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Paritas PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. 1 3 15 3 15 6 2. 2 – 4 5 25 5 25 10 3. > 4 - - 4 20 4 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa paritas satu ibu-ibu yang memberikan PASI di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 6 orang (30%). Parias ibu 2 – 4 yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 5 orang (25%) dengan jumlah total 10 orang (50%) sedangkan Paritas Ibu > 4 yang tidak memberikan PASI ada 4 (20%). Tabel 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pendidikan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. SD 1 15 2 10 3 2. SMP 4 20 6 30 10 3. SMA 2 10 3 15 5 4. PT 1 5 1 5 2 Dari Tabel diatas diketahui bahwa pendidikan ibu yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari di lihat dari tingkat pendidikan SD yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), pendidikan SMP yang memberikan PASI ada 4 orang (20%), yang tidak memberikan ada 6 orang (30%) dengan jumlah total 10 orang (50%), pendidikan SMA yang memberikan PASI ada 2 orang (10%), yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 (25%) sedangkan Perguruan Tinggi yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 2 orang (10%). Tabel 5.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pekerjaan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. PNS 1 5 2 10 3 2. SWASTA 3 15 9 45 12 3. IRT 4 20 1 5 5 Dari tabel diatas diketahui bahwa ibu-ibu yang bekerja sebagai PNS yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), ibu yang bekerja sebagai wiraswasta yang memberikan PASI ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 9 orang (45%) dengan jumlah total 12 orang (60%), sedang ibu-ibu yang bekerja sebagai IRT yang memberikan PASI ada 4 orang (20%) yang tidak memberikan PASI ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Terhadap Pemberian PASI No. Pengetahuan PASI Jumlah X2 Hitung X2 Tabel P Diberikan Tidak Diberikan 1 Baik 4 5 9 X2 = 0,11 P = 5,991 P > 0,05 2 Kurang 4 7 11 Total 8 12 20 Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI dipergunakan Uji Analisis Chi-Kuadrat dengan tingkat kepercayaan 5 % (α = 0,05), maka diperoleh nilai X2 hitung 0,11 dan X2 tabel 5,991, sehingga X2 hitung < X2 tabel, maka tidak ada hubungan antara Pengetahuan dengan Pemberian PASI. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dalam penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Karakteristik Ibu (Umur, Paritas, Pendidikan dan Pekerjaan) Sebagian besar ibu-ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari berdasarkan umur 20 – 35 tahun (55%) umur diatas 35 tahun tidak menaikkan risiko untuk menyusui secara non eksklusif, Paritas 2 – 3 atau 50% kelompok Multi Paritas sebagian besar mempunyai motivasi untuk pemberian PASI. Pendidikan SMP 50% ibu-ibu terpelajar lebih menyadari keuntungan psikologis dan fisiologis dari menyusui. Sedangkan ibu-ibu yang bekerja sebagai wiraswasta (60%) ibu-ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengganti air susu ibu. 7.1.2 Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang ASI terhadap pemberian PASI. Sebagian besar ibu-ibu hanya sekedar tahu dan belum memahami sehingga sulit untuk diterapkan. 7.2 Saran 7.2.1 Kepada Petugas Puskesmas Diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang menambah informasi atau pengetahuan yang membuat ibu-ibu menyusui tidak memberikan makanan Pendamping ASI (PASI) pada bayi 0-6 bulan, baik melalui penyuluhan atau bekerjasama kader, tokoh masyarakat. 7.2.2 Institusi Pendidikan Kesehatan Sebagai sumber bacaan di instansi Akademi Kebidanan Wirabuana Metro. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai data atau bahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, serta dapat meningkatkan hasil penelitiannya dan dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan penulis dalam penelitian ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Republik Indonesia adalah negara yang memiliki tujuan nasional dan cita-cita luhur yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dipersiapkan secara dini sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Muchtadi, 2002). Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997). Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997). Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986). Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998). Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id) Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Lampung adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Lampung Timur adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Lampung Timur 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Batanghari hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006). Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Lampung Timur 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Batanghari terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.3 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.4 Pertanyaan Penelitian Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Batanghari Lampung Timur. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.5.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur 2006. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan Wirabuana. Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya. 1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Batanghari Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui. 1.6.3 Bagi Ibu Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI 1.6.4 Bagi Penulis Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu. 1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif 1.7.2 Objek penelitian : a. Variabel Terikat : PASI b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI terhadap Pemberian PASI 1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan 1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20). 2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993). 2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup. b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya. c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin e. Menyusui bayi lebih sering f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya. 2.2 Pengertian PASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999). PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan. PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59). Indikasi pemberian PASI : 1. Ibu Menderita Demam Tinggi. 2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah. 3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid 4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu. 2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan? PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti : - Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada - Ibu meninggal dunia - Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat - Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain - Anak sakit dan dirawat dirumah sakit. Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain : 1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan. 2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas. 3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu. 4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal 2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol 1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat). 2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat. 3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan. Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73). Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi 1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk) a. Susu sapi b. Susu kerbau 2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder) 3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah) 4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk) 5. Susu Asam (Yoghurt) 6. Susu Formula (Adapted) Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43). 2.3 Faktor Pengetahuan 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian. Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan. Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut : 1. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami (Comprehension) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) 4. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas. 2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti : - Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI - Bayi menangis terlalu sering - Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993). Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000). Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000). Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000). a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara. b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi. c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya. d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi. e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar. f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik. g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya. h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah. Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara : a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar. b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu. c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI. d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar. 2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain: 1. Perubahan sosial budaya - Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya. - Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. - Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya. 2. Faktor Psikologis - Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita. - Tekanan batin. 3. Faktor Fisik Ibu - Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya. 4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002) BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi berusia 0-6 bulan merupakan masalah yang nyata bagi ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan. Karena masih banyaknya ibu menyusui yang memberikan PASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan : Variabel Dependen Variabel Independen Gambar 1 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu hubungan tingkat pengetahuan diberikannya PASI usia 0 – 6 bulan, sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan : Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Yang Diteliti Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang ASI dan PASI Kuesioner Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Nominal 2. Pemberian PASI Makanan tambahan yang diberikan pada bayi 0-6 bulan selain ASI Kuesioner Memberikan Tidak memberikan Nominal 3.3 Hipotesa Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI HA : Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian PASI Ho : Diterima Jika < BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002). Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran atau deskriptif yang menggambarkan variable-variabel penelitian tentang pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Adalah subyek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama menurut (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur yang berjumlah 20 orang dari 100 orang (Laporan Puskesmas Pembantu Batanghari). 4.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (S. Notoatmodjo, 2002:79),besarnya sampel dalam penelitian yaitu di ambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% maka sampel yang diambil adalah 100 x 20% = 20 orang yang menjadi sampel. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel accidental. 4.4 Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data, penulis mengikuti kegiatan di 5 Posyandu dengan penelitian langsung terhadap obyek yang teliti dalam hal ini ibu-ibu menyusui yang tidak memberikan ASI secara eksklusif di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Lampung Timur. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan instrumen angket / quisioner. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang dibagikan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Langkah-langkah yang ditempuh dalam Pengkumpulan Data pada Penelitian ini meliputi : 4.4.1 Langkah Persiapan 1. Mempersiapkan Instrumen Penelitian 2. Melakukan penjajakan kepada responden untuk kemungkinan dilakukan penelitian 3. Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian. 4.4.2 Langkah Pelaksanaan Setelah dilakukan Persiapan penelitian maka dilakukan Pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memperbanyak kuesioner. 2. Membagikan kuesioner kepada responden. 3. Menetepkan subjek penelitian dengan jumlah 20 responden yang diambil secera kebetulan ada. 4. Setelah didapatkan subjek dengan jumlah 20 responden, jsawaban akan dianalisis. 5. Setelah kuesioner diisi maka diperoleh data yang kemudian dilakukan tabulasi data yang didapatkan dari hasil kuesioner tersebut. 6. Kemudian dilakukan analisis data berdasarkan data yang diperoleh. 4.5 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, alat-alat yang digunakan adalah berupa angket / kuesioner yang berupa daftar pertanyaan tertutup yang telah disusun. Jumlah pertanyaan adalah 20 item untuk mengukur pengetahuan dengan alternatif jawaban “B” dan “S” jika jawaban “Benar” diberi nilai 1 dan jika “Salah” diberi nilai 0. Petanyaan meliputi Manfaat ASI, Pengertian PASI, da Dampak Negatif PASI, dengan nomor soal terlihat paa tabel berikut : Tabel 2. Daftar Kisi-Kisi Pengetahuan No. Pengetahuan Jumlah Soal No. Soal 1 2 3 Manfaat ASI Pengerian PASI Dampak negatif PASI 8 5 5 1-8 9-14 15-20 4.6 Pengolahan Data Langkah-langkah dalam pengolahan data peneliti adalah : a. Editing Meneliti kembali angket mengenai kelengkapan dan relevansi jawaban b. Koding Penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data yang telah diedit sehingga memudahkan dalam analisis data. c. Tabulasi Untuk mengetahui karakteristik sampel dalam bentuk tabel-tabel. d. Analiting Menganalisa data-data dalam tabel dan dianalisis secara narasi 4.7 Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk narasi tabel distribusi frekuensi. 4.8 Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa data bevariate yang dilakukan oleh 2 variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2002). Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus hubungan pengetahuan dengan pemberian PASI : Keterangan : X2 : Chi Kuadrat O : nilai hasil pengamatan E : Nilai ekspektasi (Eko Budianto, SKM) Sedangkan penentuan tingkat pengetahuan ibu dinilai sebagai berikut : X : Mean = Rata-rata 1. Pengetahuan baik jika skor Responden > X 2. Pengetahuan kurang jika skor responden < X BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Wilayah Obyek Penelitian 5.1.1 Analisa Situasi Puskesmas pembantu Sumberrejo adalah salah satu Puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerja Peskesmas Batanghari, yang meliputi seluruh desa Sumberrejo dan Desa Banjar Rejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. a. Batas Wilayah Puskesmas Pembantu Sumber Rejo terletak di Dusun Ngudi Rahayu Desa Sumber Rejo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah utara : dengan Desa Bumiharjo dan Kelurahan Iringmulyo 2) Sebelah selatan : dengan Desa Telogorejo 3) Sebelah barat : dengan Kelurahan Tejosari 4) Sebelah timur : dengan Desa Banjarjoyo Adapun jarak tempuh ke Puskesmas induk + 5 km b. Sumber Daya dan Tenaga Kerja Sumber daya dan tenaga kerja yang terdapat di Puskesmas Pembantu Sumber Rejo adalah : 1) Tenaga bidan : 2 orang 2) Tenaga perawat : 1 orang c. Sarana dan Fasilitas 1) BP set 2) IUD set dan meja ginecologie 3) Alat-alat meubeler lainnya 4) Sarana fisik terdiri dari lahan dengan ukuran 577,5 m2 dengan ukuran gedung 15 x 5 m d. Sumber Daya Masyarakat Sumber daya masyarakat di wilayah Puskesmas Pembantu Sumberrejo diantaranya : 1) Posyandu : 13 Pos a) 5 pos di Sumberrejo b) 8 pos di Banjarrejo 2) Kader : 64 orang a) 24 orang di Sumberrejo b) 40 orang di Banjarrejo e. Sarana Pendidikan 1) TK : 6 buah 2) SD / MI : 6 buah f. Tempat Ibadah 1) Masjid : 5 buah 2) Pesantren : 1 buah (Ponpes Mambaul Huda di Desa Sumberrejo) 2. Keadaan Alam Batanghari terdiri dari dataran rendah, dengan iklim hujan dan kemarau yang sama dengan iklim Indonesia serta curah hujan 2000-300 mm/tahun. 5.1.2 Keadaan Masyarakat Kegiatan masyarakat didominasi oleh nilai kekeluargaan dan gotong royong penyajian merupakan kegiatan yang dapat mempersatukan masyarakat dan bagi para pemuda di Desa Batanghari terdapat kegiatan Karang Taruna dan Risma yang berorientasi pada kegiatan di masing-masing dusun. Hubungan antar dusun di Wilayah Desa Batanghari ini cukup baik. Kegiatan kesehatanpun telah berjalan, dengan adanya bidan desa dan kegiatan Posyandu tiap bulannya. 5.2 Hasil Penelitian 5.2.1 Karakteristik Responden Setelah dilakukan penelitian terhadap pemberian PASI diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Umur PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. < 20 1 5 3 15 4 2. 20 – 35 5 20 6 35 11 3. > 35 2 10 3 15 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 20 orang ibu menyusui yang memberikan PASI diwilayah Puskesmas Pembantu Batanghari yang berumur < 20 tahun yaitu 1orang (5%) yang tidak memberikan PASI ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 4 orang (20%). Ibu yang berumur 20 – 35 tahun yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 6 Orang (30%) dengan jumlah total 11 orang (55%) sedangkan ibu yang berumur > 35 tahun yang memberikan PASI ada 2 orang (10%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Paritas di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Paritas PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. 1 3 15 3 15 6 2. 2 – 4 5 25 5 25 10 3. > 4 - - 4 20 4 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa paritas satu ibu-ibu yang memberikan PASI di wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 6 orang (30%). Parias ibu 2 – 4 yang memberikan PASI ada 5 orang (25%) yang tidak memberikan ada 5 orang (25%) dengan jumlah total 10 orang (50%) sedangkan Paritas Ibu > 4 yang tidak memberikan PASI ada 4 (20%). Tabel 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pendidikan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. SD 1 15 2 10 3 2. SMP 4 20 6 30 10 3. SMA 2 10 3 15 5 4. PT 1 5 1 5 2 Dari Tabel diatas diketahui bahwa pendidikan ibu yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari di lihat dari tingkat pendidikan SD yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), pendidikan SMP yang memberikan PASI ada 4 orang (20%), yang tidak memberikan ada 6 orang (30%) dengan jumlah total 10 orang (50%), pendidikan SMA yang memberikan PASI ada 2 orang (10%), yang tidak memberikan ada 3 orang (15%) dengan jumlah total 5 (25%) sedangkan Perguruan Tinggi yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 2 orang (10%). Tabel 5.4 Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari Tahun 2006 No Pekerjaan PASI Jumlah Diberikan Tidak Diberikan ∑ % ∑ % 1. PNS 1 5 2 10 3 2. SWASTA 3 15 9 45 12 3. IRT 4 20 1 5 5 Dari tabel diatas diketahui bahwa ibu-ibu yang bekerja sebagai PNS yang memberikan PASI ada 1 orang (5%) yang tidak memberikan ada 2 orang (10%) dengan jumlah total 3 orang (15%), ibu yang bekerja sebagai wiraswasta yang memberikan PASI ada 3 orang (15%) yang tidak memberikan ada 9 orang (45%) dengan jumlah total 12 orang (60%), sedang ibu-ibu yang bekerja sebagai IRT yang memberikan PASI ada 4 orang (20%) yang tidak memberikan PASI ada 1 orang (5%) dengan jumlah total 5 orang (25%). Tabel 5.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI Terhadap Pemberian PASI No. Pengetahuan PASI Jumlah X2 Hitung X2 Tabel P Diberikan Tidak Diberikan 1 Baik 4 5 9 X2 = 0,11 P = 5,991 P > 0,05 2 Kurang 4 7 11 Total 8 12 20 Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI dipergunakan Uji Analisis Chi-Kuadrat dengan tingkat kepercayaan 5 % (α = 0,05), maka diperoleh nilai X2 hitung 0,11 dan X2 tabel 5,991, sehingga X2 hitung < X2 tabel, maka tidak ada hubungan antara Pengetahuan dengan Pemberian PASI. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dalam penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 7.1.1 Karakteristik Ibu (Umur, Paritas, Pendidikan dan Pekerjaan) Sebagian besar ibu-ibu yang mempunyai bayi 0 – 6 bulan yang memberikan PASI di Wilayah Puskesmas Pembantu Batanghari berdasarkan umur 20 – 35 tahun (55%) umur diatas 35 tahun tidak menaikkan risiko untuk menyusui secara non eksklusif, Paritas 2 – 3 atau 50% kelompok Multi Paritas sebagian besar mempunyai motivasi untuk pemberian PASI. Pendidikan SMP 50% ibu-ibu terpelajar lebih menyadari keuntungan psikologis dan fisiologis dari menyusui. Sedangkan ibu-ibu yang bekerja sebagai wiraswasta (60%) ibu-ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengganti air susu ibu. 7.1.2 Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang ASI terhadap pemberian PASI. Sebagian besar ibu-ibu hanya sekedar tahu dan belum memahami sehingga sulit untuk diterapkan. 7.2 Saran 7.2.1 Kepada Petugas Puskesmas Diharapkan dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan yang menambah informasi atau pengetahuan yang membuat ibu-ibu menyusui tidak memberikan makanan Pendamping ASI (PASI) pada bayi 0-6 bulan, baik melalui penyuluhan atau bekerjasama kader, tokoh masyarakat. 7.2.2 Institusi Pendidikan Kesehatan Sebagai sumber bacaan di instansi Akademi Kebidanan Wirabuana Metro. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai data atau bahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, serta dapat meningkatkan hasil penelitiannya dan dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan penulis dalam penelitian ini.
View All
Blog
Apr 10, 2007
Motto
View All
DJ Taufan
May 17, 2009
DJ Taufan
Previous playlists:
Feb 15
-
New Music 5
Jun 4
-
New Music 3
Apr 10
-
New Music 2
View All
Video
Oct 25, 2007
DygtA - KesepiaN.mp3
View All
Guestbook
For:
Add a comment to this guestbook, for everyone
Send
detaufan
a personal message
Subject:
-
Quote original message
detaufan
Taufan
Personal Message
Report Abuse
placeholder